Sunday, 2 October 2011

Resensi Bukuku - Semiliar Cinta untuk Ayah

Jika dalam sebuah hadist Rasulullah SAW menganjurkan seorang anak untuk menghormatinya ibunya hingga 3 kali, baru kemudian nama Ayah disebut, bukan berarti peran orang tua lelaki itu tidak berarti. Bahkan pada kenyataannya, kewajiban seorang Ayah untuk mencari nafkah dan menjadi penanggungjawab atas keluarganya adalah sebuah tugas yang amat berat.
Dengan berbagai kewajiban berat yang teremban di pundak seorang Ayah itulah, kadang membuat anak-anaknya tidak bisa mengecap indah kasih sayang dan cinta seorang Ayah yang ideal.
Bahkan, tidak jarang sosok ayah muncul menjadi monster, sosok yang kaku, keras, pendiam, dan ‘jauh’ dari hati anak-anaknya. Kehadirannya pun terasa nisbi karena kesibukan sang Ayah yang sangat di luar rumah. Inilah yang hadir dalam 20 kisah menyentuh tentang Ayah dalam buku “Semilyar Cinta Untuk Ayah”.
Dipotret dalam berbagai sudut pandang dan gaya bercerita yang lugas tentang berbagai karakter Ayah yang ada di masyarakat saat ini, semua kisah bermuara pada ungkapan hati anak-anak bahwa mereka juga menyayanginya, walau dengan berbagai cara pengungkapan yang berbeda.
Sebuah buku alternatif yang layak dipilih untuk kembali mengingatkan tentang pentingnya sebuah komunikasi dalam keluarga. Terhadap anak-anak sekali pun. Sebab, mereka ternyata merekam dan meniru serta mengejawantahkan perlakuan orang tuanya itu dengan cara mereka sendiri.
Bisa jadi salah satu karakter Ayah di dalam buku ini adalah pengalaman Anda sendiri.

Simak prakata dari endorser:

“Saya menangis membaca naskah ini. Sungguh, seringkali kita lupa siapa ‘Ayah’ sebenarnya. Kesan kasar, pemarah, tak peduli adalah stigma yang melekat. Di balik sosok keras, ternyata Ayah membentuk karakter. Mewariskan kebaikan yang tidak dapat dilakukan kaum ibu. Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah kisah yang menggugah tentang kaum ayah -yang seringkali dimusuhi anak-anaknya- mengajarkan senantiasa bermimpi meraih yang terbaik, bertarung dengan hidup yang keras dan keji, tetap diam dalam keteguhan, bagaimana tetap mencontohkan kebaikan-kebaikan kecil. Dan bahkan ayah, yang paling kasar sekalipun, menyisakan ruang kecil dalam hatinya : demikianlah cinta, yang begitu sulit diungkapkan.”
(Sinta Yudisia, Penulis The Road to The Empire I & II)

Sumber:  http://embunkehidupan-kehidupan.blogspot.com/2011/07/resensi-semiliar-cinta-untuk-ayah.html)

No comments:

Post a comment