Sunday, 27 April 2014

Ketika Kata Berlarian



“Buntu! Bingung mau nulis apa!”

Wah, kalau kalimat itu diungkapkan oleh para penulis, benar-benar masalah besar.
Jika diibaratkan penulis adalah seorang tentara, maka kata-kata adalah senjatanya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika tentara kehilangan senjata? Dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk menjalankan tugasnya. Heuheu.

Pernah mengalami?
Saya pernah. Sering bahkan :(

Dulu, kalau saya terserang “penyakit” ini, ya sudah … saya berhenti dulu menulis. Percuma saja memaksakan diri. Tapi, bagaimana kalau tulisan itu harus segera selesai dalam jangka waktu tertentu. Ada tenggat waktu yang ketat. Saya harus benar-benar “memaksa” otak, menelisik kata yang sedang bersembunyi, entah di mana.

Salah satu yang biasanya saya lakukan ketika mengalami kebuntuan itu adalah membaca. Membaca apa saja. Saya mengambil salah satu buku di rak buku, secara acak. Lalu membuka halaman-halamannya secara acak juga. Halaman berapa pun yang terbuka, halaman itulah yang harus saya baca.

Dan … keajaiban terjadi.

Saat itu, saya baru saja akan memulai menulis novel “Wanita di Lautan Sunyi.” Plot dan alur sudah saya susun rapi. Begitu juga karakter tokoh, setting, konflik dan seterusnya. Semua unsur intrinsik yang harus ada dalam sebuah novel sudah saya rancang. Tapi … saya belum bisa menulis juga. Bingung, mau mulai dari mana? Kalimat apa yang harus saya tuliskan sebagai pembuka? *garuk-garuk kepala*

Secara acak, tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hitam, judulnya “Atlas Sejarah Nabi Muhammad saw. dan Khulafaur Rasyidin.” Kebetulan, tangan saya memang menjangkau bagian rak buku yang berisi buku-buku sejarah semuanya. Saya keget juga, kenapa buku ini yang saya ambil? Apa hubungannya antara novel yang akan saya tulis dengan sejarah? Tapi, ya … saya memang enggak boleh milih. Aturan itu kan saya sendiri yang membuat. :p

 Cover buku Atlas Sejarah dan Novel saya "Wanita di Lautan Sunyi"

Saya buka halamannya secara acak, dan terbukalah halaman 36-37.  Saya baca terus, hingga sampai di paragraf kedua, halaman 37. Di sana tertulis sebuah peribahasa Arab yang berbunyi:
“Inkunta riihan faqad laa qaita i`shaaran.”
“Jika dirimu adalah angin, boleh jadi engkau akan bertemu badai.”

Ini isi halaman 37, paragraf ke-2.


Dzing! #$%

Seolah-olah ada embusan angin yang meniup tengkuk saya. Saya merinding. Memori akan Sangkulirang yang berada di tepi laut membayang cepat. *FYI, Sangkulirang adalah tempat yang saya jadikan setting novel “Wanita di Lautan Sunyi.* 

Otak saya sepertinya langsung bekerja cepat, berbagai peristiwa di dalam calon novel saya membayang-bayang di depan mata. Sang tokoh akan mengalami ini dan itu. Lalu si ini begitu, dan seterusnya.

Gegas saya duduk di meja kerja dan membuka laptop. Saya sudah menemukan “AHA!” saya.
Harus segera ditulis, sebelum kilatan-kilatan itu padam dan saya kehilangan. Alhamdulillah, kalimat pembuka sudah saya dapatkan dan Allah membuat jemari saya lancar menari di atas tombol-tombol huruf di laptop.

Apakah ini kebetulan? Izinkan saya memaknai ini sebagai bentuk pertolongan Allah. Ilham dan petunjuk-Nya. Saya yakin, tak ada yang kebetulan di dunia.

 Peribahasa Arab tadi saya jadikan pembuka di bab satu


Apakah saya pernah “gagal”? Tetap mengalami kebuntuan menulis padahal sudah melakukan cara ini? Mengambil buku, membuka halaman secara acak, lalu membacanya. Tetapi, “AHA!” itu tidak juga saya temukan. Oh, pernah juga. Pernah. Tetapi, setidak-tidaknya saya tetap dapat pengetahuan baru dari apa yang saya baca. Jadi, tetap tak ada yang sia-sia, kan. Teuteup, hahaha  ;)
 
Ah, kalau penasaran. Ayo dicoba saja. Siapa tahu teman-teman juga bisa merasakan “sensasi indah” ketika menemukan “AHA!” ini. Masya Allah. Merinding disko, ruar biasa! 



"Wanita di Lautan Sunyi"
Penerbit: Quanta-imprint Elex Media Komputindo
Harga: Rp54.800
Beredar April 2014

Beli ya  ;)  

1 comment:

  1. luar biasa .. pasti lah pernah merasakan buntu mau nulis apa lagi .. bingung

    ReplyDelete