Sunday, 3 July 2016

Jangan Kerdilkan Mereka

       Beberapa bulan lalu, saya sempat enggak percaya waktu mendengar seorang teman bercerita. Jadi, pernah suatu hari terjadi keributan kecil di kantornya. Seorang ibu datang ke kantor jurusan dan marah-marah. Penyebabnya karena sang anak, terancam enggak bisa ikut sidang akhir, karena terlambat mengumpul berkas. Enggak jelas kenapa si anak terlambat mengumpul, yang jelas si ibu marah karena anaknya tidak mendapatkan dispensasi.

: "Eh itu anaknya ke mana? Kok ibunya yang turun gunung?"
* "Enggak tahu anaknya di mana."

: "Anaknya perempuan?"

* "Laki-laki."
: "Hmm ... S1?"
* "S2. Sudah menikah lagi."
Dezigh!! *nyubit pipi sendiri*


        Eh, kok akhirnya mengalami sendiri kejadian yang mirip. Baru beberapa minggu lalu ada kejadian. Seorang bapak menelepon suami saya. Anaknya terancam tidak bisa ikut wisuda semester ini, karena ada satu persyaratan yang tidak bisa dipenuhi. Sang bapak meminta anaknya mendapat pengecualian. :(

           Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul di pikiran saya
Itu anaknya pada ke mana? Kenapa para orangtuanya yang turun tangan? Apa enggak bisa mengurus sendiri masalah-masalah yang sebenarnya disebabkan oleh keteledorannya sendiri? 

        Beberapa hari ini, saya merasa diteror oleh dering telepon. Bolak-balik saya dihubungi oleh nomor yang sama dengan permintaan agar saya membujuk suami saya. Sang anak, gagal lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Bapak itu meminta saya bertanya pada suami, ada "jalur belakang" enggak buat anaknya agar pasti keterima di jalur mandiri nanti--setelah SNMPTN, ada ujian mandiri di masing-masing  PTN. "Tolong dibantu," katanya. 
Hellow!! :( 
Ketika permintaan itu saya tolak halus, dering telepon makin meneror. Akhirnya, saya tolak tegas, eh malah saya yang dimarahi. Heuheu.

          Sehabis dimarahi itu, hati saya bertambah perih rasanya.
Bukan! Bukan karena dimarahi orang, tapi karena pertanyaan-pertanyaan besar semakin memberati pikiran.
Jelas ada sesuatu yang salah yang tanpa sadar sudah kita lakukan pada anak-anak kita. Hingga menyelesaikan masalahnya sendiri, mereka "tak bisa". Atau bisa sebenarnya, tapi kita yang tak percaya mereka bisa.

Mungkin berawal dari:
"Sini Mama suapin makannya, biar enggak berantakan."
"Sini, Mama kancingkan bajunya. Biar cepat."
"Biar Papa yang bawakan, tas kamu berat banget."
"Sini Papa aja yang urus. Kamu kan masih kecil."

ARGGGH!

      Jadi ingat, waktu Naila masuk Youchien (TK di Jepang). Kami para orangtua dilarang membawakan barang anak-anak begitu sampai di gerbang sekolah. Anak-anak harus berlatih mandiri dan bertanggungjawab. Ajaran yang kecil, tapi membekas banget. *Nanti kapan-kapan saya tulis di blog ini deh, insya Allah.*

Ya Allah, tolong bantu kami para orangtua ini, agar mampu mendidik anak-anak kami menjadi generasi yang kuat.

”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."
(QS. An Nisaa ayat 9)

        Saya mengartikan lemah di sini, lemah imannya, lemah kecerdasannya, lemah kemampuan (skill)nya dan lemah kemandiriannya. Na`udzubillah tsumma na`udzubillah.


No comments:

Post a comment